Belajar dari Pengemis .
Oleh ; ahmad ridho
Pagi seperti biasanya saya berangkat kekampus dengan sepeda motor , rapih dengan pakaian kemeja, celana bahan ,rambut kelimis yang sudah menjadi bagian karakter diri saya ..tak lupa penutup dada selalu dibawa agar menjaga dari angin yang menghempas kencang didada jika tidak saya gunakan.
Tepat pukul 7.30 pagi saya melewati perempatan jalan depan rumah sakit perahabatan. Memang ramai banyak pengendara sepeda motor dan sopir angkot yagn searah dengan saya menuju ke kampus. Tepat persis ditikungan perempatan itu saya lihat orang tua paruh bayah dengan pakain lusuhnya duduk di atas koran yang menjadi alasnya.
Dalam benak bertanya-tanya karena terheran, siapa orang itu?? Tak ada terpikirkan kalau orang itu pengemis, pengamen atau orang biasa yang sedang duduk di perempatan itu.
Pikir saya hanya orang biasa saja, dan tanpa berfikir lagi saya teruskan perjalan ke kekampus..lagipula saya sedang ditunggu oleh adik kelas yang ingin belajar tahsin..
Dua jam sudah rasanya sudah saya penuhi rasa tanggung jawab ini untuk mengjarkan tahsin. Kemudian langsung bergegas kembali kerumah untuk istirahat makan. Dalam perjalanan pulang kudapati lagi orang itu yang sama persis dengan orang yang kutemui tadi pagi. Apa memang orang itu ya..tapi ada keganjalan melihatnya. Penegemis itu menangis sambil meraung kesakitan. Entah apa yang diderita.;.
Tak tega rasanya segera saya balikan arah motor saya dan menghampirinya.kemudian saya tanyakan orang itu..”pak,kenapa?koq menangis?”, orng itu ”saya belum makan de, mau bantu saya, anak saya dirmah menunggu saya. kasian de..saya gak tau apa yang saya lakukan” dengan cepat kurogohkan kantungku,kudapati uang selembar sepuluh ribuan.”pak ini,bapak tidak usah menangis”..”iya de.terimakasih”.
Senang rasanya bisa bantu orang kesulitan, wlaupun hanya uang selembar. Dalam perjalanan hanya senyum jika ingat kejadian itu. Jadi teringat sebuah nasihat usatad yang pernah disampaikan saat pengajian ta’lim . ustad menyampaikan bahwasannya ALLAH mentakdirkan hambanya yang berbeda-beda. Ada yang susah dan ada yang senang. Tapi takdir itu bisa diubah dengan diri sendirinya. Pastinya bagi orang-orang yang beriman akan diuji oleh ALLAH SWT. Bahkan semua umat manusia akan selalu diuji.
Allah telah Berfirman.”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan , kelaparan , kekurangan harta , jiwa ,dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yagn sabar”(QS;Al-Baqoroh;155).
Ternyata memang kita diingatkan dengan ayat ALLAH swt. Dan menjadi sunnatullah jika manusia diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta. Melihat pengemis tadi menjadi bukti nyata bahwasanya ALLAH menguji kita dengna kelaparan dan kekurangan harta. Banyak orang takut karena kelaparan dan takut harta kita habis.
Dan ini sudah menjadi tabiat kemanusiaan yang dimiliki semua manusia. Lantas,
Bagaimana kita menyikapi hal itu yang sudah menjadi kepastian pada dri kita dan akan terjadi pada diri kita pastinya.sikap kita sebagai hamba ALLAH pastinya harus beribadah padaNYA. Karena pada dasarnya manusia di ciptakan untuk beribadah.”sesungguhnya Allah mencipatakan jin dan manusia tidaklah hanya untuk beribadah”(Qs;Az-zariyat”56).
Dengan ibadah ALLAH menjadiakn hamba-hambanya bertakwa. Dengan taqwa ALLAH mengabulakan dan memudahakan segala keinginannya.
Allahu’alam dengan pengemis tadi.mereka orang yang berputus asa atau menyerah begitu saja. Padahal ALLAh sudah pastikan jika kita bertakwa.rasa takut, kelaparan, kekuranagan harta akan mudah diatasi dengan keimanan yang berbuah takwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
brikan komentar dengan kata-kat yang baik dan sopan