Selasa, 27 Oktober 2009

belajar dari Pengemis

Belajar dari Pengemis .
Oleh ; ahmad ridho

Pagi seperti biasanya saya berangkat kekampus dengan sepeda motor , rapih dengan pakaian kemeja, celana bahan ,rambut kelimis yang sudah menjadi bagian karakter diri saya ..tak lupa penutup dada selalu dibawa agar menjaga dari angin yang menghempas kencang didada jika tidak saya gunakan.
Tepat pukul 7.30 pagi saya melewati perempatan jalan depan rumah sakit perahabatan. Memang ramai banyak pengendara sepeda motor dan sopir angkot yagn searah dengan saya menuju ke kampus. Tepat persis ditikungan perempatan itu saya lihat orang tua paruh bayah dengan pakain lusuhnya duduk di atas koran yang menjadi alasnya.
Dalam benak bertanya-tanya karena terheran, siapa orang itu?? Tak ada terpikirkan kalau orang itu pengemis, pengamen atau orang biasa yang sedang duduk di perempatan itu.
Pikir saya hanya orang biasa saja, dan tanpa berfikir lagi saya teruskan perjalan ke kekampus..lagipula saya sedang ditunggu oleh adik kelas yang ingin belajar tahsin..
Dua jam sudah rasanya sudah saya penuhi rasa tanggung jawab ini untuk mengjarkan tahsin. Kemudian langsung bergegas kembali kerumah untuk istirahat makan. Dalam perjalanan pulang kudapati lagi orang itu yang sama persis dengan orang yang kutemui tadi pagi. Apa memang orang itu ya..tapi ada keganjalan melihatnya. Penegemis itu menangis sambil meraung kesakitan. Entah apa yang diderita.;.
Tak tega rasanya segera saya balikan arah motor saya dan menghampirinya.kemudian saya tanyakan orang itu..”pak,kenapa?koq menangis?”, orng itu ”saya belum makan de, mau bantu saya, anak saya dirmah menunggu saya. kasian de..saya gak tau apa yang saya lakukan” dengan cepat kurogohkan kantungku,kudapati uang selembar sepuluh ribuan.”pak ini,bapak tidak usah menangis”..”iya de.terimakasih”.
Senang rasanya bisa bantu orang kesulitan, wlaupun hanya uang selembar. Dalam perjalanan hanya senyum jika ingat kejadian itu. Jadi teringat sebuah nasihat usatad yang pernah disampaikan saat pengajian ta’lim . ustad menyampaikan bahwasannya ALLAH mentakdirkan hambanya yang berbeda-beda. Ada yang susah dan ada yang senang. Tapi takdir itu bisa diubah dengan diri sendirinya. Pastinya bagi orang-orang yang beriman akan diuji oleh ALLAH SWT. Bahkan semua umat manusia akan selalu diuji.
Allah telah Berfirman.”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan , kelaparan , kekurangan harta , jiwa ,dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yagn sabar”(QS;Al-Baqoroh;155).
Ternyata memang kita diingatkan dengan ayat ALLAH swt. Dan menjadi sunnatullah jika manusia diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta. Melihat pengemis tadi menjadi bukti nyata bahwasanya ALLAH menguji kita dengna kelaparan dan kekurangan harta. Banyak orang takut karena kelaparan dan takut harta kita habis.
Dan ini sudah menjadi tabiat kemanusiaan yang dimiliki semua manusia. Lantas,
Bagaimana kita menyikapi hal itu yang sudah menjadi kepastian pada dri kita dan akan terjadi pada diri kita pastinya.sikap kita sebagai hamba ALLAH pastinya harus beribadah padaNYA. Karena pada dasarnya manusia di ciptakan untuk beribadah.”sesungguhnya Allah mencipatakan jin dan manusia tidaklah hanya untuk beribadah”(Qs;Az-zariyat”56).
Dengan ibadah ALLAH menjadiakn hamba-hambanya bertakwa. Dengan taqwa ALLAH mengabulakan dan memudahakan segala keinginannya.
Allahu’alam dengan pengemis tadi.mereka orang yang berputus asa atau menyerah begitu saja. Padahal ALLAh sudah pastikan jika kita bertakwa.rasa takut, kelaparan, kekuranagan harta akan mudah diatasi dengan keimanan yang berbuah takwa.

Senin, 26 Oktober 2009

Penjual Yang Tawakal

Penjual yang tawakal
Oleh; ahmad ridho


Jika kita berkunjung ke daerah puncak cisarua BOGOR, pastinya kita dapati banyak penjual dimana-mana. Seperti banyakknya pasar yang mengelilingi setiap tepi jalanan. Unik memang, bahkan terheran-heran jika kita melihatnya. Tak ada satupun yang tak terlewatkan tanpa adanya penjual. Mulai dari penjual yang menetap dengan bangunan sederhananya. Ataupun penjual asongan yang berkeliling dengan alat gendongannya. Bermacam-macam yang dijual. Dari makanan sampai pernak pernik yang unik dan bisa kita bawa sebagai buah tangan untuk orang-orang tercinta dirumah…
Penjual dengan banyak bicara(pintar menwarkan) bisanya jadi pusat perhatian bagi para pembeli. Mungkin jadi sebuah keharusan bagi mereka . mereka harus aktif menawarkan dan meyakinkan setiap pembeli. Jika saja tidak aktif untuk menawarkan tertinggallah para penjual yang hanya berdiam diri. Siapa yang cepat dia yang dapat. Bisa dikatakan “man jadda wajadda” siapa yang bersunggu-sungguh maka akan mendapatkannya. Inilah jadi prisnip bagi kaum penjual yang barangkali tidak disadari bahwasannya mereka mengaplikasaikan hadist rasulullah Saw.
Tapi bukan itu yang kita liat. Bagi kita wajar saja, namanya juga penjual pasti memilik karakter yang sama..inti nya menawarkan kepada para pembeli.. seperti itulah yang kita liat. Tapi jika kita memandang dari sisi lain ada yang luar biasa bagi para penjual disana. Bayangkan saja bisa kita hitung berapa ratus jumlah para penjual yang sama. Bisa puluhan bahkan ratusan. Dan bahkan setiap kendaraan umum yang kita tumpangi hampir semua penjual mejual dagangannya yang sama.sampai kita merasa bosen dengan dagangannya yang sama. Tapi bagi mereka(red.Penjual) tidak ada kata bosan untuk menjual barang dagangnannya.
Dari pagi hingga malam hari tak ada kenal lelah untuk terus menawarkann barang dagangannya. Begitu sabar hingga sampai ada yang membelinya. disitulah letak kehebatannya para penjual mungkin bisa kita katakan begitu tawakalnya mereka untutk menjual. Walupun banyak pesaingnya mereka meyakini bahwasannya namanya rizki tidak kemana, ALLAH yang sudah mengatur dan pasti akan ada rizki jika berusaha dengan sungguh-sungguh.itulah Sebuah konsep tawakal bagi para penjual yang harus kita pelajari . ada ibroh pastinya, konsep tawakal sebenarnya sudah dijalani oleh para penjual yang tak pernah kenal henti untuk mendapatkan rizki dari dagangannya yang dijual...
Sebuah keyakinan yang luar biasa dan pastinya kita ambil maknanya. Bagaimana dengan kita yang saat ini masih sering merasa keputus asan jika meghadapi masalah yang kita hadapi..kita sudah berusaha, jka kita gagal merasa bahwasannya usaha kita sia-sia. Tak ada kata sia-sia dimata ALLAH bagi yang beruasaha dan ingat kepada ALLAH SWT. ALLAH SWT berfirman :”dan Dia memberinya Rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakl kepada ALLAH SWT , Niscaya Allah akan mencukupkan(keperluannya),Sesungguhnya ALLAH melaksanakan urusan-NYA. Sungguh , Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”(QS;At-Talaq; 3).
Inilah janji ALLAH bagi orang-orang yagn tawakal. Kenapa kita harus ragu dengan janji ALLAH yang memiliki Ruh ini. Terkadang, kita salah mengartikan makna tawakal itu sendiri. Tawakal seolah-olah kepasrahan kepada ALLAH tanpa adanya usaha. Inilah kesalahan mengartikan makna ketawakalan. Dan jika kita tawakal berkesan ALLAh akan membantu dangan ketawakalannya tanpa adany usaha, jika tidak tercapai yang kita hasilkan berujung pada kekecewaan. Tawakal bukan berarti kita berdiam sendiri dan diserahkan semua pada Allah Swt tanpa ada nya usaha terlebih dahulu. Lihatlah para penjual yang subahanallah, pernahkah mereka merasa letih jika dagangannya belum terjual satu pun . mereka terus berusaha dan berusaha sampai benar-benar dagangannya laku beberapa barangpun. Tapi sayangnya, sedikit para penjual yang mereka serahkan urusannya pada ALLAH. Walaupun dengan tidak sadar mereka bertawakal, tapi tidak dibarengi dengan keimanan mereka. Ingat ALLAH dengan berdoa dikala waktu sholat –sholat berkumandang pada waktunya.Allahu’alam.
Jika kita yang sudah melaksanakan kewajiban sebagai hamba ALLAH dan merasa beriman kenpa kita tidak berusaha untuk tawakal padaNYA dengan setiaap usaha-usaha kita yang kita jalankan. Janganlah jadi penjual yang tawakal tanpa adanya keimanan.
Semoga kita jadi orang-orang yang bertawakal akan setiap usha yang kita jalankan..amiin.
Allahu’alam.

Minggu, 25 Oktober 2009

Suami Istri yang Teladan

Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Keluarga bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan tersebut, tetapi uga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Karena itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga.

Perhatian istimewa terhadap pembentukan keluarga tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:

Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri, menyusui anak, dan sebagainya.

Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon mempelai yang shalihah. Rasulullah saw. bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak.”

Rasulullah Suami Teladan

Rasulullah saw. sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika beliau menginjak usia 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwailid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketentraman dan ketenangan.

Rasulullah saw. amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia; dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina.”

Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk berbuat baik dalam menggauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya.

Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakukan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukuli istrinya seperti memukul seorang budang, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”

Ketika Rasuluallah saw. mengizinkah memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat serta ancaman secukupnya, beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah saw. berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”

Rasulullah saw. merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada istri. Kita jumpai banyak hadits yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut pada keluarganya.” Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tidak berguna untuk dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar. Bila ada waktu senggang beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kwajiban rumah tanggannya.

Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw. di rumahnya, beliau menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat, dia pergi shalat.”

Rasulullah saw. memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang muslim adalah rumah tangga yang penuh cinta dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan hati, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.

Bila terpaksa harus bertindak tegas, Rasulullah saw. melakukannanya dengan disertai kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita, sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.

Khadijah Istri Teladan

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, tetapi ia selalu menolak. Ia pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah.

Ketika mendengar tentang kejujuran Muhammad saw., ia menyuruh pembantunya mendatangi dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak lelaki bersama Maisyarah. Nabi Muhammad menerima permohonan itu dan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.

Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Khadijah sebagai Ummul Mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi Muhammad saw. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di Gua Hira. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baiknya wanita yang mendukung Rasulullah saw. dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannnya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.

Rasulullah saw. pernha menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagku anak dari selainnya.” (Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya)

Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya, dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Ia gunakan jiwa dan semua hartanya untuk mendukung Rasul dan kaum muslimin. Pantaslah kalau Khadijah dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islam.

Khadijah mendampingi Rasulullah saw. selama seperempat abad. Berbuat baik di saat Rasulullah gelisah. Menolong Rasulullah di waktu-waktu sulit. Membantu Rasulullah dalam menyampaikan risalah dan ikut merasakan penderitaan pahit akibat tekanan dan boikot orang-orang musyrik Quraisy. Khadijah menolong tugas suaminya sebagai Nabi dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah saw. senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selam hidupnya sehingga membuat Aisyah cemburu. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa itu, pantaslah jika Allah swt. menyampaikan salam lewat malaikat Jibril kepada Khadijah. Jibril datang kepada Nabi, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini Khadiah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (Bukhari)

Itulah Khadijah, sosok seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita yang mendukung keshalehan dan tugas dakwah suaminya.

Ciri-ciri Rumah Tangga Muslim

1. Sendi bangunannya adalah ketakwaan kepada Allah swt. Takwa adalah sendi yang kuat bangunan keluarga. Memilih suami/istri harus sesuai dengan arahan Rasulullah saw., yaitu utamakan sisi agamanya.
2. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan kesenangan materi saja, sebab kebahagiaan sejati muncul dari dalam jiwa yang takwa kepada Allah swt. Bila ketakwaan telah menjadi sendi utama, maka kekurangan materi menjadi ringan. Ketakwaan yang ada di dalam dada pasangan suami-istri memunculkan tsiqah (rasa saling percaya) dan akan melahirkan ketentraman serta ketentraman dalam hubungan suami-istri. Hubungan antara anggota keluarga akan terasa indah karena semua sadar akan tanggung jawab dan hak-haknya.
3. Rumah yang dibangun untuk keluarga seharusnya sederhana dan mengutamakan skala prioritas dengan mengurangi hal-hal yang tertier dan berlebihan.
4. Dalam makanan dan berpakaian, seorang muslim amat sederhana, menekankan aspek kebersihan, dan menghindari dari yang haram, sikap berlebihan (israf), dan bermewah-mewahan. Semua anggota keluarga dipacu untuk memperbanyak berinfak dan bersedekah. Hindari syubhat, jauhi yang haram, itu moto mereka.
5. Anggaran rumah tangga dipenuhi dari rezeki yang halal dan baik. Sebab, daging yang terbentuk dari daging haram akan dibakar oleh api neraka. Secara teknis perlu ada kesepakatan antara suami-istri dalam menentukan besaran dan alokasi anggaran rumah tangga. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan. Cukupi diri dengan hal-hal yang dibutuhkan, bukan memperbanyak daftar keinginan.
6. Perhatikan hak-hak Allah swt. Tunaikan zakat, menabung untuk pergi haji, sediakan kotak khusus untuk sedekah bagi kemaslahatan umat.